Arsip untuk November, 2008

KARAKTERISTIK FISIK MEKANIK EDIBLE FILM PROTEIN JAGUNG PULUT DENGAN PENAMBAHAN CARBOXYMETHYL CELLULOSA (CMC) DAN GLISEROL

November 28, 2008

Adiansyah dan Martina Ngantung

Selain bahan baku, kualitas fisik mekanik edible film juga sangat ditentukan oleh jenis dan komposisi plasticizer yang digunakan. Penggunaan protein dan plasticizer yang tepat akan memberikan tahanan yang selektif terhadap transmisi uap air dan gas. Tujuan dari penelitian ini adalah mengekstrak protein jagung dan mengetahui karakteristik fisik mekanik edible film dari protein jagung dengan penambahan Carboxymethyl cellulose (CMC) dan gliserol.

Penelitian tahap I adalah menggunakan pelarut etanol 1:5 untuk mendapatkan ekstrak protein jagung. Penelitian tahap II adalah membuat edible film protein jagung dengan penambahan plasticizer menggunakan rancangan acak lengkap factorial dengan 2 faktor masing-masing diulang 2 kali yaitu gliserol (2%, 4%, 6%) dan CMC (1%, 2%, 3%).

Hasil penelitian menunjukkan penggunaan pelarut etanol 1:5 menghasilkan kadar protein sebesar 20.33% yang berarti dapat dijadikan bahan dasar edible film. Peningkatan konsentrasi CMC dan gliserol cenderung meningkatkan ketebalan edible film. Uji elastisitas menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi CMC dan gliserol cenderung menurunkan kuat tarik hingga 0.83 N/m2 namun cenderung meningkatkan persen pemanjangan edible film hingga 483.30% sementara peningkatan konsentrasi CMC hingga 3% dan gliserol 2% memberikan laju transmisi uap air terkecil yaitu 0.15 g/cm2.jam.

Kata kunci : edible film, plasticizer, protein jagung, CMC, gliserol

Seminar Nasional Green Product

November 11, 2008

10 November 2008
Produk-produk berbasis lingkungan harus mempertimbangkan aspek-aspek lingkungan dalam daur hidup produk sehingga dapat meminimalkan dampak negatif terhadap alam. Upaya minimalisasi tersebut untuk mendorong semua pihak agar berperan dalam pengembangan teknologi menuju produk ramah lingkungan, khususnya dalam mengantisipasi terjadinya gejala perubahan iklim. Pada sektor produksi, berbagai macam cara dapat dilakukan. Salah satunya adalah dengan konsep green product yang berkelanjutan. Pada intinya, green product adalah upaya untuk meminimalkan limbah ketika proses produksi di samping memaksimalkan produk yang dibuat sekaligus memenuhi syarat ramah lingkungan.
Demikian terungkap dalam seminar nasional bertajuk “Green Product, Pengembangan Teknologi Menuju Produk Ramah Lingkungan”, di Widyaloka Universitas Brawijaya (UB), Senin (10/11). Seminar nasional ini digelar dalam rangka perayaan Dies Natalis ke-46 UB atas kerjasama dengan PT Pertamina.
Dalam kesempatan tersebut, Sri Tantri Arundhati, Asisten Deputi Urusan Standardisasi Teknologi dan Produksi Benih Kementerian Lingkungan Hidup, menyampaikan, konsep green product melahirkan kebijakan baru dalam dunia produksi, yaitu ekolabel. “Ekolabel memanfaatkan sumber daya alam sebijaksana mungkin”, tegasnya. Bijaksana yang dimaksud adalah memanfaatkan sumber daya di sekitar semaksimal mungkin dan membuang limbah seminimal mungkin.
Sementara itu Rismawarni Marshal, Direktur Eksekutif Pusat Produksi Bersih Nasional, menyampaikan bahwa saat ini isu lingkungan menjadi isu kunci dalam bisnis. “Peraturan lingkungan tentang produk telah banyak diterapkan di negara maju karena diupayakan suatu usaha meminimalisir dampak lingkungan yang diakibatkan oleh suatu produk”, ungkapnya. Ia mengatakan,  konsep green product dalam proses produksi dalam negeri sangat penting agar produk lokal dapat bersaing di luar negeri. Konsep ini harus dipahami, baik oleh pemasok, produsen, maupun konsumen mengingat produsen-produsen dari negara maju sudah menerapkannya sejak lama. Meskipun kebijakan ini masuk dalam domain penambahan anggaran biaya bagi produsen, pada masa mendatang akan sangat bermanfaat. Ia menambahkan, studi yang dilakukan pada 3 industri besar yang telah menerapkan green product terbukti mampu menghemat biaya sebesar Rp 706.250.690, menurunkan emisi CO2 sebanyak 6.626,3 ton/tahun, dan menghemat listrik sebanyak 9131,2 MWh/tahun. Meskipun demikian, penerapan green product di industri nasional saat ini mengalami beberapa kendala. “Kendalanya ada pada rendahnya kesadaran produsen, keraguan terhadap barang yang berlabel ramah lingkungan, dan relatif mahal”, paparnya.
Sedangkan Prof Dr Ir Chandrawati Cahyani MS dari Puslit Biokonversi Pusat Kajian Kimia FMIPA-UB menyampaikan, sebenarnya cukup sulit mengkategorikan suatu produk sebagai green product. Diambil contoh, meskipun cukup populer sebagai produk aman, tidak semua produk-produk bio dapat dikategorikan sebagai green product. Misalnya saja lerak, meskipun dianggap produk alami untuk pewarna pakaian, ternyata membutuhkan masa degradasi yang lebih lama daripada produk kimia. “Oleh sebab itu, selain mengupayakan green product, kita bisa mengerjakan hal yang lebih mudah misalnya daur ulang”, ujarnya. Proses daur ulang, menurutnya bukan langkah green product, tetapi mampu mendorong green product pada material-material yang banyak terbuang sia-sia. Sebagai contoh, pada upaya daur ulang kertas bisa dihemat 3000 liter air, 3000-4000 KWh/tahun, dan 95% polusi udara.
Adapun Eviyanti yang mewakili PT Pertamina menyampaikan, sebagai produsen, perusahaannya sudah melakukan upaya green product sejak lama dalam program Langit Biru. Titik tekan program tersebut adalah dalam upaya mengurangi limbah. Menurutnya, pada masa yang akan datang green product akan diupayakan oleh PT Pertamina dengan memasyarakatkan produk-produk bio seperti biopremium, biopertamax, maupun biokerosene.
Bersamaan dengan seminar, di lantai I Widyaloka digelar pula pameran green product yang dihasilkan oleh masyarakat, seperti kompos, pewarna alami, kompor biji jarak. [fjr]