Arsip untuk September, 2008

Ekstraksi Zat Warna Kelopak Bunga Rosela (Hibiscus sabdariffa Linn.) Sebagai Alternatif Pewarna Alami Bahan Pangan

September 26, 2008

Oleh :

Endang Retno W., Diana P., Fungki S.R., Endang N. dan Tri Rahayuningsih*)

ABSTRAK

Industri pangan pada saat ini masih banyak yang menggunakan zat warna buatan yang peruntukannya bukan untuk bahan pangan. Hal ini sangat merugikan konsumen karena dapat mengganggu kesehatan. Sementara itu masih banyak tanaman yang berpotensi sebagai sumber zat warna alami. Kelopak bunga rosella mengandung zat warna antosianin dengan kadar yang relatif tinggi, sehingga kelopak bunga rosella mempunyai potensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber zat warna alami untuk bahan pangan.

Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk menggali potensi kelopak bunga rosela sebagai sumber zat warna alami, (2) untuk mengetahui cara ekstraksi zat warna kelopak bunga rosela yang tepat, dan (3) untuk mengetahui stabilitas zat warna selama penyimpanan pada suhu kamar dan suhu dingin.

Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial dengan 3 (tiga) ulangan. Faktor pertama adalah Jenis Asam (A) dengan 2 level, yaitu A1 = Asam Asetat dan A2 = Asam Sitrat. Sedangkan faktor kedua adalah Konsentrasi Asam (K) dengan 4 level, yaitu K1 = 0 %, K2 = 1 %, K3 = 2 %, dan K4 = 3 %, sehingga diperoleh 8 kombinasi perlakuan. Parameter pengamatan meliputi rendemen, nilai pH, dan intensisitas warna.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Rata-rata rendemen ekstrak kelopak bunga rosela berkisar antara 38,93 % – 45,37 %, (2) Rata-rata nilai pH ekstrak kelopak bunga rosela pada hari ke-0 berkisar antara 4,73 – 4,92, (3) Rata-rata nilai absorbansi ekstrak kelopak bunga rosela berkisar antara 1,3056 – 3,1087, (4) Nilai rata-rata konsentrasi antosianin ekstrak kelopak bunga rosela berkisar antara 109,7166 mg/L - 261,3058 mg/L, (5) Konsentrasi zat warna antosianin ekstrak kelopak bunga rosella dipengaruhi oleh interaksi antara jenis asam dan konsentrasi asam bahan pengekstrak, (6) pH ekstrak kelopak bunga rosela dipengaruhi oleh interaksi antara jenis asam dan konsentrasi asam bahan pengekstrak, tetapi kedua faktor tersebut tidak berpengaruh secara tunggal, (7) Penyimpanan selama 7 hari pada suhu kamar menyebabkan penurunan konsentrasi antosianin dan kenaikan nilai pH, dan (8) Penyimpanan selama 7 hari pada suhu dingin menyebabkan kenaikan nilai pH tetapi tidak menyebabkan penurunan konsentrasi antosianin.

 

Kata kunci : kelopak bunga rosela, ekstraksi, zat warna antosianin

*) Dosen Pengajar PS Teknologi Industri Pertanian Fak Teknik UWKS

PENGARUH JENIS PELARUT PADA PROSES EKSTRAKSI TERHADAP KUALITAS PIGMEN BUNGA TURI

September 16, 2008

Elfi Anis Saati 1), Mujianto 1), Nur Hastuti 2)

Staf pengajar Jurusan THP Univ. Muh. Malang, 2) Alumni THP-UMM

Bunga turi (Sesbania grandiflora (L) Pers) memiliki 2 jenis warna yaitu merah dan putih. Bunga turi merah mengandung antosianin dan bunga turi putih mengandung flavonoid. Antosianin merupakan pigmen alam penyebab warna oranye, merah, biru, dan ungu, sedangkan flavonoid berwarna coklat, kuning dan tidak berwarna. Pada tanaman, antosianin dan flavonoid terdapat pada bunga, buah, dan bersifat larut dalam air (Gross, 1987).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis pelarut yang tepat pada proses ekstraksi bunga turi merah dan turi putih dan mengetahui jenis pigmen yang terkandung dalam bunga turi merah dan turi putih.

Penelitian ini menggunakan sampel penelitian yaitu bunga turi merah dan bunga turi putih. Masing-masing sampel penelitian diteliti dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) sederhana. Pigmen bunga turi merah terdiri dari 3 level perlakuan jenis pelarut yang berbeda yaitu: M1 = aquades : asam sitrat, M2 = aquades : sari jeruk nipis, M3 = aquades : etanol : asam sitrat dengan kombinasi perbandingan sebagai berikut: aquades : asam sitrat ( 9 : 1), aquades : sari jeruk nipis (9 : 1), aquades : etanol : asam sitrat (5 : 4 : 1) dan pigmen bunga turi putih terdiri dari 2 level perlakuan jenis pelarut yang berbeda yaitu: P1 = aquades : asam sitrat, P2 = aquades : asam asetat dengan kombinasi perbandingan sebagai berikut: aquades : asam sitrat aquades : asam sitrat ( 9 : 1), aquades : asam asetat (95 : 5). Masing-masing perlakuan pada kedua pigmen tersebut diulang sebanyak 3 kali. Setelah memperoleh hasil analisa dari pigmen tersebut, ditentukan kualitas dan kuantitas pigmen terbaik dari masing-masing bunga turi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bunga turi merah mengandung antosianin dengan jenis Sianidin 3-glokosida dan pelargonidin 3 (p-umarilglukosida) 5-glukosida sedangkan bunga turi putih mengandung pigmen flavonoid dengan jenis apigenin (flavon) dan kuersetin (flavonol). Jenis pelarut berpengaruh nyata terhadap pH, absorbansi, intensitas warna, kadar dan rendemen yang dihasilkan oleh pigmen bunga turi merah dan bunga turi putih. Kualitas pigmen terbaik bunga turi merah diekstrak menggunakan pelarut aquades : asam sitrat : etanol dengan memiliki pH 1,67, absorbansi 30,67, intensitas warna nilai L 25,17 nilai a +10,47, nilai b – 0,37, memiliki kadar antosianin 42 mg/100ml dan rendemen 24,13 %. Kualitas pigmen terbaik bunga turi putih diekstrak menggunakan pelarut aquades : asam sitrat dengan memiliki pH 1,17, absorbansi 22,87, intensitas warna nilai L 40,93, nilai a + 1,10, nilai b + 37,10 dan rendemen 16, 10%.

Kata Kunci : pigmen antosianin, bunga, turi merah