Arsip untuk Agustus, 2008

Abstrak makalah A11

Agustus 25, 2008

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN SIFAT PENANGKAL RADIKAL BEBAS EKSTRAK BUNGA KECOMBRANG (Nicolaia speciosa Horan) METODE TEAC (Trolox Equivalent Antioxydant Capacity)

Diny A Sandrasari

Jurusan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Sahid Jakarta

Jl. Prof. Dr. Soepomo 84 Jakarta Selatan 12870 Telp. 8312813-15

e-mail : dien_agoestini@yahoo.co.id

ABSTRAK

Penggunaan antioksidan sintetis pada makanan cenderung dihindari karena alasan keamanan dan bersifat karsinogenik. Adanya kemungkinan ketidakamanan akibat penggunaan antioksidan sintetik ini, mengakibatkan penelitian tentang penggalian potensi antioksidan alami khususnya yang berasal dari tumbuhan terus mengalami peningkatan. Salah satu tumbuhan yang mempunyai potensi ini adalah bunga kecombrang. Fraksi antioksidan diekstrak menggunakan metanol. Ekstrak diuji potensial antioksidannya menggunakan metode DPPH (1.1-diphenil –2-picyhidrazil), ABTS dan TBA.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana aktivitas antioksidan dan sifat penangkal radikal bebas ekstrak bunga kecombrang yang diuji dengan metode TEAC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak bunga kecombrang mempunyai aktivitas antioksidan yang cukup kuat namun masih lebih rendah jika dibandingkan dengan standar trolox yang digunakan

Key words : bunga kecombrang, aktivitas antioksidan, penangkal radikal bebas, DPPH, ABTS

Seminar Nasional Agroindustri Berbasis Sumberdaya Lokal

Agustus 15, 2008

14 Agustus 2008
Pangan dan gizi merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi setiap saat dan merupakan unsur yang sangat penting dan strategis dalam meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. Pangan, selain mempunyai arti biologis juga mempunyai arti ekonomis dan politis. Implikasinya, diperlukan ketersediaan pangan yang cukup, distribusi yang lancar dengan harga yang terjangkau oleh daya beli masyarakat, serta konsumsi pangan yang dapat memenuhi kebutuhan penduduk di seluruh wilayah setiap saat. Keamanan dan mutu gizi yang memadai harus terjamin, sesuai dengan pola makan dan keinginan masyarakat agar hidup sehat, aktif dan produktif.
Isu ini mengemuka dalam seminar nasional bertajuk “Pengembangan Agroindustri Berbasis Sumberdaya Lokal untuk Mendukung Ketahanan Pangan”. Digelar di Gedung Widyaloka, Kamis (14/8), Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya (FTP-UB) sengaja mengundang dua keynote speaker: Prof Dr Ir Ahmad Suryana MS (Kepala Badan Ketahanan Pangan Nasional) dan Ir Ahmad Komara (Plant Manager PT ABC Heinz).
Dalam laporannya, Dekan FTP Prof Dr Ir Harjono MAppSc menyatakan, topik-topik yang diangkat seminar ini sangat penting, dan diharapkan mendapat perhatian dan komitmen dari masyarakat yang peduli dengan dunia agroindustri.
Sedangkan Rektor Prof Dr Ir Yogi Sugito ketika membuka seminar menekankan, pangan merupakan salah satu masalah yang sangat mendesak selain energi dan air. Oleh karenanya, harus mendapatkan perhatian yang lebih.
Mulai dari Rumah Tangga
Badan Ketahanan Pangan, menurut ketuanya Prof Ahmad Suryana, telah membentuk sebuah sistem ketahanan pangan yang terdiri atas beberapa subsistem, yaitu: ketersediaan, distribusi, dan konsumsi. Subsistem ketersediaan akan memperhatikan kondisi yang terjadi pada produksi dalam negeri, impor, dan cadangan. Subsistem distribusi meninjau aksesibilitas fisik dan ekonomi dalam upaya memeratakan ketersediaan pangan kepada masyarakat. Sedangkan subsistem konsumsi memperhatikan kualitas pangan termasuk keseimbangan gizi, mutu dan keamanan serta diversifikasinya. Apabila dalam penilaian tiap-tiap subsistem tersebut baik, maka dapat dipastikan ketahanan pangan Indonesia juga baik.
Ia mengungkapkan bahwa sisi lemah upaya ketahanan pangan di Indonesia ada pada upaya diversifikasi pangan yang masih rendah. Ketergantungan masyarakat Indonesia pada komoditas beras sebagai sumber pangan utama justru memperburuk kondisi itu. “Masyarakat Indonesia mengkonsumsi 139,6 kg/kapita/tahun. Bandingkan dengan Thailand yang hanya 70 kg/kapita/tahun atau Malaysia 90 kg/kapita/tahun. Ini tidak bagus, sehingga upaya diversifikasi pangan sangat penting”, ujarnya.
Ketahanan pangan Indonesia sebenarnya sudah cukup bagus, ditandai oleh Pola Pangan Harian (PPH) yang tinggi, sekitar 82%. “Hanya saja, kita masih banyak mendengar adanya busung lapar atau kasus-kasus kelaparan di beberapa daerah. Jadi permasalahan ketahanan pangan sebenarnya bukan pada level nasional, melainkan pada level rumah tangga”, ungkapnya. Oleh sebab itu, menurutnya upaya meningkatkan ketahanan pangan harus dimulai dari level rumah tangga.
Kesenjangan
Sementara itu Ahmad Komara sebagai praktisi dari dunia bisnis mengatakan bahwa adanya gap atau kesenjangan antara kebutuhan pangan dan jumlah masyarakat yang semakin bertambah juga harus dimaknai sebagai sebuah peluang. Menurutnya, kondisi yang ada sekarang ini juga harus memacu terjadinya keseimbangan antara supply dan demand sehingga kebutuhan pangan baik secara kualitas, kuantitas, maupun pendistribusiannya bisa dipenuhi.
Untuk bisa memenuhi target tersebut dengan mengupayakan produk-produk local memang butuh upaya lebih. Ahmad Komara mengutarakan, di tengah-tengah gempuran komoditas impor yang lebih ekonomis diperlukan penggantian bahan dalam konteks agrobisnis yang berorientasi pada industri pertanian yang lebih menguntungkan dengan kualitas dan harga yang bersaing. “Saat ini produk impor memang lebih murah dan hasil petani kita lebih mahal. Kalangan industri yang ingin berpihak kepada petani local akan berupaya bekerjasama dengan petani melalui kemitraan”, ujarnya. Campur tangan pemerintah dalam bentuk insentif juga diperlukan dalam mendesain terhadap tumbuh dan berkembangnya agrobisnis.
Seminar nasional ketahanan pangan yang digelar oleh FTP diselenggarakan dalam rangka Lustrum II fakultas tersebut. Acara tersebut juga dihadiri para penyaji makalah yang berasal dari berbagai universitas yang ada di Indonesia. Tercatat sebanyak 82 makalah dan 5 poster ilmiah diterima oleh panitia dan sebagian dari penulisnya akan mempresentasikan hasil karyanya. Rencananya, makalah-makalah tersebut akan dibukukan dalam prosiding seminar nasional. [fjr]

PELATIHAN SISTEM MANAJEMEN LABORATORIUM ISO 17025

Agustus 4, 2008

Laboratorium penguji memiliki peranan penting dalam berbagai aspek kehidupan. Terutama perjanjian-perjanjian besar dalam perdagangan dan keputusan-keputusan peraturan terjadi setiap hari berdasarkan data yang dihasilkan oleh laboratorium penguji. Data hasil pengujian laboratorium sangat dibutuhkan baik dalam proses sertifikasi dan pengawasan mutu produk. Kesalahan dan ketidak akuratan data hasil uji dapat mengakibatkan kegagalan produksi, mutu produk yang tidak sesuai, membahayakan kesehatan lingkungan dan bahkan kematian.

ISO (International Organization for Standardisation) mendefinisikan akreditasi sebagai pengakuan formal terhadap suatu laboratorium penguji yang mempunyai kompetensi untuk melakukan pengujian tertentu atau pengujian yang khusus yang tertuang dalam peraturan ISO 17025:2005. Akreditasi laboratorium mampu memberikan jaminan terhadap mutu dan keakuratan data hasil uji sekaligus menjamin kompetensi laboratorium penguji.

M-BRIO Training telah berpengalaman sejak tahun 2002 menyelenggarakan Pelatihan Manajemen, Pembuatan Dokumen dan Audit Internal Laboratorium berdasarkan ISO 17025. M-BRIO Training telah menyelenggarakan pelatihan Manajemen, Pembuatan Dokumen dan Audit Internal dengan jumlah lulusan
lebih dari 50 orang yang tersebar di industri pangan dan instansi pemerintah di seluruh Indonesia.

Tujuan Pelatihan:
* Peserta mampu memahami persyaratan mutu dan teknis dari persyaratan ISO 17025
* Mampu mendesain dan mengimplementasikan persyaratan umum Kompetensi Laboratorium Pengujian dan Kalibrasi.

Term and Condition:
Investasi : Rp 2.500.000,-
Untuk setiap peserta (3 hari) termasuk materi pelatihan, lunch, coffee break, dan sertifikat.
* Apabila peserta tidak dapat menghadiri pelatihan dapat digantikan peserta lainnya tanpa biaya tambahan
Pendaftaran dapat dilakukan melalui tel/fax (0251 8377 973) atau email (training@mbrio-food.com)
contact person : Ivone E. Fernandez, SSi

Dalam rangka meningkatkan kompetensi Laboratorium sekaligus meningkatkan pengetahuan mengenai persyaratan mutu dan teknis Laboratorium Penguji dan Kalibrasi berdasarkan ISO 17025, maka MBRIO Training Body akan menyelenggarakan ” Pelatihan Sistem Manajemen Laboratorium ISO 17025” pada :

Hari/ Tanggal : Senin – Rabu / 19 –21 Agustus 2008

Pukul  : 08.00 – 17.00 WIB

Tempat : PT. Embrio Biotekindo

Jl. Pajajaran V No. 1C

Baranangsiang, Bogor

Sehubungan dengan kegiatan tersebut, kami memberikan penawaran instansi Bapak untuk turut berpartisipasi sebagai peserta. Berikut ini kami lampirkan leaflet mengenai ” Pelatihan Sistem Manajemen Laboratorium ISO 17025”.

Atas perhatian dan pertimbangan Bapak, kami ucapkan terimakasih.